Ada kalanya pelayanan mengajak kita berhenti sejenak. Bukan sebagai tanda mundur, melainkan sebagai ruang untuk menata hati. Di tengah ritme hidup yang padat dan tuntutan aktivitas yang terus berjalan, Majelis GKJ Kanaan memberi diri pada sebuah jeda yang bermakna. Pada tanggal 15 – 17 Januari 2026, mereka berangkat ke D’emmerick Salib Putih, Salatiga, dengan satu kerinduan sederhana namun mendalam: belajar untuk bertumbuh dengan hati melayani.
Perjalanan ini menyimpan banyak cerita. Di balik tas dan koper yang dibawa, ada rutinitas yang perlu diatur ulang, izin kerja yang diajukan, serta waktu bersama keluarga yang untuk sementara dilepas. Ada pula kesiapan hati dan pengorbanan pribadi agar kebersamaan ini dapat dijalani. Semua dilakukan dalam keheningan, lahir dari kesadaran bahwa melayani jemaat adalah panggilan iman. Pelayanan menuntut kerendahan hati untuk terus belajar, membuka diri, dan diperlengkapi. Umat Tuhan yang dilayani layak menerima pelayanan yang dijalani dengan kesungguhan dan tanggung jawab.
Hari pertama pembekalan mengarahkan perhatian pada salah satu pelayanan gereja yang paling dekat dengan kehidupan umat, yaitu perkunjungan. Melalui pemaparan Pdt. Arya Triyudanto, perkunjungan dihadirkan sebagai panggilan iman yang hidup, yang menyentuh kehidupan sehari-hari umat. Dalam ajaran Gereja Kristen Jawa, perkunjungan dipahami sebagai bagian dari pemeliharaan iman warga dan menjadi tanggung jawab seluruh warga gereja. Dari sini tampak bahwa gereja hadir tidak hanya melalui mimbar dan liturgi, tetapi juga lewat langkah kaki yang mendekat, duduk bersama, dan telinga yang siap mendengar, tanpa harus menjadikan perkunjungan sebagai ibadah mini.
Perkunjungan dipahami sebagai ruang perjumpaan yang menuntut kepekaan. Di sanalah dilatih kemampuan mendengarkan dengan sungguh, memberi perhatian, dan hadir dengan ketulusan hati. Active listening menjadi sikap batin yang dibangun bersama. Respons yang bijaksana, doa yang sederhana, serta kata-kata penguatan sering kali lebih menguatkan daripada nasihat panjang. Bahkan hal-hal praktis seperti durasi kunjungan menjadi bagian dari kepekaan, agar kehadiran gereja sungguh membawa kelegaan. Suasana pembekalan mengalir serius namun hangat, terlebih saat berbagai kasus nyata dibagikan bersama, mengingatkan bahwa pelayanan selalu bersentuhan dengan kehidupan yang tidak pernah sepenuhnya bisa ditebak.
Memasuki hari kedua, pagi itu Majelis meluncur dari hotel menuju GPIB Immanuel Semarang, yang lebih dikenal sebagai GPIB Bledug. Gereja ini menyimpan jejak sejarah panjang iman Kristen di Indonesia, berdiri sejak abad ke-18 dan tetap merawat kekayaan arsitektur serta spiritualitasnya. Di tengah arus zaman yang serba digital, tata ibadah cetak masih digunakan tanpa layar atau infokus, sebuah pilihan yang menjaga estetika ruang ibadah sekaligus menghadirkan kekhusyukan tersendiri. Dari kunjungan singkat ini, tersirat pelajaran bahwa pertumbuhan gereja juga terjadi melalui kesetiaan merawat akar, menghargai tradisi, dan menjaga hal-hal yang esensial.
Pada malam harinya, pembekalan berlanjut dengan materi manajemen konflik yang disampaikan oleh Pdt. Sundoyo, Ketua Umum Sinode GKJ. Konflik yang sering dipahami sebagai ancaman diajak untuk dilihat dari sudut pandang iman. Dalam terang teologi Kristen, konflik merupakan bagian dari dinamika persekutuan yang dapat dipakai Tuhan untuk mendewasakan komunitas. Konflik dihadapi sebagai ruang pembelajaran bersama dengan dilandasi kasih Kristus.
Dalam konteks budaya timur dan Jawa, upaya menjaga keharmonisan kerap membuat perasaan disimpan rapat-rapat. Suara hati ditahan demi ketenangan di permukaan. Namun di sinilah disadari bahwa konflik yang tidak diungkapkan dapat menjadi beban yang perlahan menggerogoti relasi. Keberanian untuk menyampaikan rasa secara jujur perlu berjalan seiring dengan kesediaan untuk mendengarkan dengan sikap tenang dan rendah hati. Dari proses saling mendengar inilah langkah bersama dirumuskan, demi merawat persekutuan.
Seluruh rangkaian pembinaan ini tentu menguras tenaga dan pikiran. Namun semuanya dijalani dengan sukacita, karena ada keyakinan bahwa pelayanan yang baik perlu dipersiapkan dengan matang. Setelah pembinaan usai, para Majelis kembali pada panggilan sehari-hari. Minggu pagi, 18 Januari 2026, mereka telah kembali hadir melayani jemaat dalam ibadah. Tubuh mungkin terasa lelah, tetapi hati diperkaya dan diperbarui oleh proses yang dijalani bersama.
Kiranya semua yang dilakukan ini sungguh menjadi persembahan hidup yang berkenan kepada Tuhan. Firman Tuhan mengingatkan bahwa mempersembahkan seluruh hidup sebagai persembahan yang hidup, kudus, dan berkenan kepada Allah, itulah ibadah yang sejati. Di tengah segala keterbatasan, Majelis GKJ Kanaan memilih untuk terus belajar, bertumbuh, dan melayani dengan sukacita. Gereja dibangun melalui kesetiaan yang dijalani dengan kasih dan hati yang terus dibentuk oleh Tuhan.

















