Sampai hari ini, semuanya masih terasa seperti mimpi. Setelah melalui perjalanan yang begitu panjang – berpindah-pindah tempat ibadah dan sejak November 2002 meminjam Pastoran Kodam Bintaro – akhirnya, pada 9 Agustus 2026 GKJ Kanaan memasuki gedung gereja milik sendiri. Minggu itu semakin istimewa karena bertepatan dengan peringatan 18 tahun kemandirian GKJ Kanaan. Langkah memasuki gedung baru pun lebih dari sekadar berpindah tempat ibadah, seolah kita sedang masuk ke dalam jawaban atas doa yang telah dirawat bertahun-tahun. Tidak sedikit dari kita yang meneteskan air mata. Air mata pagi itu menjadi bahasa yang paling jujur untuk berkata, “Terima kasih, Tuhan.”
Saya teringat pada tahun 2010, ketika ujian calon pendeta. Salah seorang penguji bertanya, “Mas, kalau tiba-tiba GKJ Kanaan dengan jumlah warga yang banyak ini diminta pergi dari Pastoran Kodam Bintaro, sebagai pendeta apa yang akan kamu lakukan?” Dengan percaya diri saya langsung menjawab, “Tenang saja, tahun depan GKJ Kanaan sudah mendapat izin.” Jawaban yang meluncur tentu bukan wangsit dari langit. Saat itu, ada “bisikan” dari Tim Perizinan Gereja bahwa proses di Tanah Deplu menunjukkan perkembangan yang cukup menggembirakan. Kabar itulah yang membuat jawaban disampaikan dengan penuh keyakinan, seolah semuanya akan segera berjalan sesuai harapan.
Ternyata meleset. Tahun demi tahun berlalu, izin yang dinantikan belum juga datang. Alih-alih menemukan jalan yang semakin lapang, justru berhadapan dengan berbagai bentuk penolakan, mulai dari spanduk, selebaran, kumpulan tanda tangan ratusan orang, hingga berbagai proses yang kadang membuat harapan seperti maju satu langkah lalu mundur beberapa langkah. Pencarian pun bergeser, dari Kota Tangerang ke Tangerang Selatan, bahkan pernah menjajaki kemungkinan di Jakarta Selatan. Begitulah perjalanan itu berlangsung, terus mencari, mencoba, berdoa, berharap, lalu kembali melangkah.
Pernah juga terlintas di pikiran, “Jangan-jangan sampai saya emeritus, GKJ Kanaan belum juga memiliki izin gereja sendiri.” Rekan-rekan pendeta di lingkup Klasis Jakarta pun kadang bercanda bahwa GKJ Kanaan perlu “diruwat” karena memakai nama Kanaan – dengan mengingat kisah bangsa Israel yang menempuh perjalanan berliku-liku menuju tanah perjanjian. Saya tersenyum mendengarnya, tetapi di balik candaan itu tersimpan kenyataan bahwa perjalanan GKJ Kanaan memang tidak singkat. Penantian yang panjang, harapan yang berkali-kali diuji, dan langkah yang terus diupayakan, membentuk ketekunan untuk tetap percaya, bahkan ketika ujung jalan belum terlihat.
Pada 2019, lahirlah sebuah nazar pribadi kepada Tuhan untuk memanjangkan rambut sampai terbuka jalan bagi izin pembangunan gereja. Seumur hidup, rambut gondrong bukan sesuatu yang pernah saya bayangkan. Ternyata rambut panjang mempunyai pergumulannya sendiri. Masa pandemi semakin memperlihatkan bahwa merawatnya tidak sesederhana yang dibayangkan. Bahkan urusan keramas pun menjadi cerita tersendiri. Nazar pribadi ini bukanlah transaksi dengan Tuhan, juga bukan cara untuk memaksa-Nya mempercepat jawaban. Rambut yang terus memanjang justru menjadi pengingat bahwa ada doa yang belum selesai, ada harapan yang terus dibawa, dan ada kesabaran yang masih harus dibangun.
Sampai akhirnya, ketika Rumah Doa di Kavling 55 mulai dipakai untuk Ibadah Minggu, perlahan tampak titik terang dalam perjalanan perizinan pembangunan gereja. Nama “Rumah Doa” juga memiliki makna tersendiri. Bukankah bertahun-tahun itulah yang kita lakukan? Berdoa saat jalan terbuka, berdoa ketika jalan tertutup, berdoa ketika harapan mulai tumbuh, dan tetap berdoa saat jawaban Tuhan sulit dipahami. Ketika titik terang semakin nyata, rambut panjang itu akhirnya ikut “purna tugas”. Nazar harus dipenuhi!
Sangat tepat jika Mazmur 127:1 menjadi ayat emas dalam ibadah peresmian gedung baru sekaligus ulang tahun ke-18 GKJ Kanaan, “Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya.” Ayat ini terasa lekat dengan perjalanan kita. Selama bertahun-tahun, begitu banyak orang telah memberi waktu, tenaga, pikiran, dana, doa, dan kesetiaan untuk mencari lokasi, mengurus perizinan, membangun relasi, serta menjaga harapan tetap hidup. Semua jerih lelah itu menjadi bagian penting dari perjalanan GKJ Kanaan dan patut dikenang dengan penuh syukur. Pemazmur sama sekali tidak meniadakan usaha manusia, tetapi menolong kita melihat bahwa setiap upaya yang dilakukan tidak pernah terlepas dari tangan Tuhan yang berkarya dan menuntun perjalanan bersama.
Perjalanan bersama itulah yang perlahan menumbuhkan apa yang dalam psikologi sosial disebut sense of community, yaitu rasa menjadi bagian dari sebuah komunitas dan terikat dalam pengalaman yang sama. GKJ Kanaan dibentuk bukan hanya oleh kebersamaan dalam beragam program pelayanan, tetapi juga oleh kenangan ketika meminjam tempat, menanti, kecewa, kembali berharap, bekerja bersama, hingga akhirnya meneteskan air mata di rumah yang baru. Dari perjalanan yang panjang, kita belajar bahwa gereja bukan saja tentang gedungnya, melainkan tentang orang-orang yang terus berjalan bersama, bergandengan tangan dalam iman, dan menumbuhkan rasa bahwa “inilah rumah kita bersama.”
Ya, rasanya masih seperti mimpi ketika akhirnya GKJ Kanaan memiliki gedung gereja sendiri. Namun mimpi yang telah menjadi nyata tidak membuat kita terus terlelap di dalamnya. Kini saatnya “bangun” dan memberi makna pada rumah baru ini sebagai ruang tempat orang merasa diterima, bertumbuh, berpulih, berani melayani, dan menjadi berkat bagi masyarakat. Mari terus melangkah bersama, menyambut cerita-cerita baru yang masih akan Tuhan tuliskan melalui kehidupan GKJ Kanaan.


















